Faculty of Community Health

Peringatan Hari AIDS Sedunia FKM Undana

E-mail Print PDF

Data dari WHO mencatat kasus HIV sudah mencapai 36,7 juta orang sampai pada akhir tahun 2016. Kasus HIV dan AIDS berdasarkan region ditemukan sebanyak 24,7 juta kasus di Afrika disusul 3,6 juta kasus di South-East Asia

Indonesia adalah salah satu negara di Asia dengan epidemi yang berkembang paling cepat selain Pakistan dan Filipina. Jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 268.185 kasus meningkat dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 225.928 kasus. Seluruh provinsi di Indonesia sudah ditemukan kasus HIV dan AIDS yang setiap tahunnya menunjukkan peningkatan. Kasus kumulatif HIV dan AIDS di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga meningkat dari 3.252 kasus tahun 2014 menjadi 4.056 kasus tahun 2015. Kasus HIV dan AIDS sudah ditemukan diseluruh kabupaten di Provinsi NTT dengan faktor risiko penularan 98% melalui heteroseksual. Persentase infeksi HIV tertinggi pada kelompok usia 20–29 tahun mencapai 1.282 kasus disusul kelompok usia 30-39 tahun yang mencapai 1.159 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa 75% kasus HIV di Provinsi NTT berada pada rentang usia produktif.


Masalah HIV & AIDS bukan hanya menjadikan masalah kesehatan bagi penderitanya, namun dampaknya akan menyebabkan masalah-masalah lain, seperti masalah sosial dan ekonomi bagi penderita dan juga keluarganya. Oleh karena itu, partisipasi dari seluruh stakeholder dalam upaya penanggulangan HIV & AIDS menjadi sangat penting. Menanggapi upaya-upaya dan pesan pemerintahan dalam rangka penanggulangan dan pencegahan tersebut, maka kami sebagai anak bangsa yang bergabung dalam sebuah wadah Mahasiswa Peduli AIDS FKM UNDANA di dukung oleh Dekan FKM UNDANA, KPA Provinsi NTT dan KPA Kota merasa peduli untuk mengkampanyekan dan berkontribusi untuk terlibat dalam 3 misi penanggulangan HIV dan AIDS, yaitu:

  1. Tidak ada lagi infeksi baru
  2. Tidak ada lagi stigma terhadap HIV dan AIDS
  3. Tidak ada lagi kematian akibat HIV dan AIDS

Berangkat dari tiga hal diatas maka para inisiator mencoba untuk melahirkan sebuah ‘Talk Show’ yang disesuaikan dengan tema nasional yaitu Saya Berani, Saya Sehat. Kegiatan ini dilakukan di Aula Rektorat Baru pada tanggal 2 Desember 2017 lalu. Beberapa Narasumber seperti; dr. Husein Pancratius (Prov. NTT), Bapak Agus Bebok (KPA Kota), Wakil dari Youth Foundation, Dr. Luh Putu dan Dr. Imelda Manurung (FKM Undana) hadir untuk mengkampanyekan Isu HIV dan AIDS kepada mahasiwa Undana. Diskusi menarik lebih banyak pada topik penularan HIV yang hanya bisa ditularkan oleh orang yang terinfeksi HIV dengan memperhatikan 4 yakni:

  1. Exit: berarti virus harus keluar dari tubuh orang yang terinfeksi, baik melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi.
  2. Survive: Untuk dapat menularkan HIV, virus harus dapat bertahan hidup di luar tubuh. "Virus ini tidak bisa bertahan lama di luar tubuh. Untuk peralatan kedokteran yang dipakai dan menyentuh darah pasien positif HIV biasanya direndam dalam larutan klorin 0,5% maka virusnya akan mati.
  3. Sufficient: hal ini berarti jumlah virusnya harus cukup untuk dapat menginfeksi. "Jika virusnya hanya sedikit tidak akan berpengaruh. Karena itu jangan percaya dengan orang yang menakut-nakuti ada tusuk gigi atau jarum di tempat umum yang berasal dari orang positif HIV, selain jumlah virusnya sangat sedikit, pasti virusnya juga sudah mati. Demikian juga dengan keringat, air mata dan air ludah.
  4. Enter: Berarti virusnya harus masuk ke tubuh orang lain melalui aliran darah. Hal ini berarti melalui pertukaran darah antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin atau menyusui, hubungan seksual, baik anal atau vaginal, serta alat tusuk tidak steril yang menembus kulit.Akhir dari kegiatan tersebut muncul harapan bahwa nantinya semua yang terlibat dalam kegiatan tersebut untuk bersama-sama peduli dalam mendukung misi ‘getting to zero’ dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Aksi nyata dalam mendukung misi tersebut:
  • Mahasiswa juga dengan sukarela mau diperiksa darahnya untuk mengetahui status HIV nya karena kami semua sadar mengetahui status kesehatan sejak dini  maka kita telah melakukan perlindungan terhadap keluarga dan orang yang kita sayangi.
  • Aksi nyata berikutnya adalah ada 10 orang relawan mahasiswa FKM Undana yang menyatakan komitmen untuk terlibat dalam kegiatan mahasiswa peduli AIDS. Komitmen tersebut disambut oleh Bapak Agus Bebok (KPA Kota) dengan mendeklarasikan FKM UNDANA sebagai Warga Peduli AIDS (WPA) ke 52 di Kota Kupang. Sebagai informasi, selama 3 tahun KPA Kota sudah berhasil membentuk WPA di semua kelurahan di kota kupang yang berjumlah 51. WPA merupakan kegiatan kepedulian warga untuk menekan laju epidemic HIV dan AIDS. Saran beliau, dengan ditetapkan nya FKM undana sebagai WPA ke 52 di Kota Kupang, diharapkan ada gerakan bersama dari elemen mahasiswa dan masyarakat untuk mengkampanyekan isu HIV dan AIDS.
  • Pada tanggal 10 Februari 2018 di FKM Undana akan dilakukan orientasi untuk WPA FKM Undana. Diharapkan dalam orientasi ini akan ada berbagai kegiatan yang bermanfaat untuk mendukung misi ‘getting to zero’.

Bagikan artikel di

FacebookLinkedinTwitter